Film ini diproduseri Deden Ridwan, dengan Ody Harahap sebagai sutradara dan Joko Nugroho sebagai penulis skenario.
Kombinasi ini menarik karena masing-masing membawa pendekatan yang berbeda:
Deden Ridwan
memposisikan film ini sebagai medium katarsis sosial—sebuah cara untuk mengekspresikan keresahan publik terhadap birokrasi yang sering kali dianggap tidak adil.
Ody Harahap
membawa pendekatan dramatis yang lebih intim. Alih-alih menghadirkan konflik besar secara bombastis, ia memilih menggali konflik batin tokoh utama.
Joko Nugroho
sebagai penulis skenario menghadirkan cerita yang sangat grounded: laporan warga, razia lalu lintas, percakapan di kantor polisi—semua terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Tim cerita juga diperkuat oleh beberapa kreator lain yang membantu membangun lapisan naratif yang lebih kompleks.
Kolaborasi ini menjadikan “Meja Tanpa Laci” sebagai proyek yang tidak sekadar mengandalkan star power, tetapi juga kekuatan storytelling.
Dalam industri film Indonesia yang semakin kompetitif, pendekatan seperti ini sering kali menjadi faktor yang menentukan apakah sebuah film bisa meninggalkan dampak jangka panjang.


